Munculnya era tourism 4.0, merupakan dampak dari revolusi industri 4.0 di sektor pariwisata. Era ini ditandai dengan adanya kemudahan akses atas informasi melalui media digital. Era tourism 4.0 juga menjadi penyebab munculnya fenomena pergeseran budaya siber dan visual pada wisatawan Indonesia, khususnya generasi milenial.
Era tourism 4.0 terjadi karena pengaruh transformasi digital di sektor pariwisata. Era ini telah memberikan perubahan signifikan pada ekosistem kepariwisataan terutama pada generasi milenial. Dimana, sejak bergesernya budaya siber, milenial secara massive memanfaatkan platform digital untuk mengakses sejumlah informasi terkait pariwisata. Nampaknya, hal tersebut memiliki keterkaitan terhadap berubahnya ketertarikan wisatawan milenial akan sebuah destinasi dari sisi visualnya. Kini, milenial lebih tertarik mengunjungi destinasi wisata karena ingin mengabadikan moment “selfie”nya.
Seluruh perkembangan dan perubahan dari revolusi ini, berujung pada satu kunci yang sama, yaitu melalui pemanfaatan kekuatan digitalisasi atas informasi. Berangkat dari hal tersebut, konvergensi teknologi yang terjadi melalui pemanfaatan digitalisasi atas informasi, diistilahkan sebagai masa internet of things (IoT). Istilah ini diartikan sebagai hubungan antara berbagai jenis hal seperti produk, layanan, tempat, dan sebagainya dengan orang-orang. Hubungan ini terjadi melalui adanya pemanfaatan teknologi atas informasi yang diakses melalui beragam bentuk platform.
Munculnya transformasi digital yang menjadipenyebab lahirnya tren tourism 4.0. Tranformasi digital inilah yang mengubah keseluruhan siklus ekosistem kepariwisataan, termasuk menjadi penyebab bergesernya budaya siber dan visual pada wisatawan.Revolusi Industri 4.0 tidak bisa dihindarkan. Tuntutan perkembangan teknologi ini membawa kita semua untuk siap menghadapi berbagai innovation di berbagai situa sosial. Dapat dilihat dengan maraknya ekspansi dunia digital dan internet ke Sebagai generasi muda juga mempunyai peran besar dalam melahirkan insan karakter dan kritis.
Ada 4 hal penting di era Revolusi Industri 4.0 yaitu critical thingking, creativity, communication, dan collaboration.Oleh sebab itu, milenial adalah sebuah potensi besar di Industri Pariwisata. Karakteristik milenial sendiri adalah mudah beralih dan pilih alternatif lain yang lebih bisa memberikan keuntungan. Milenial juga ingin sebuah kemudahan dalam berbagai aktivitas nya, hal ini bisa dimaksimalkan dengan penggunaan teknologi digital.
Tourism 4.0 lahir seiring dmulai tersedianya big data perilaku travellers yang mampu dikumpulkan via application dan sensor yang kemudian diolah untuk menciptakan seamless dan personalized travelling experience. Seamless dan personalized experience itu bisa diwujudkan karena adanya peran teknologi industri di revolusi Industri 4.0.

The more digital, the more professional. The more digital, the more global. Maka siapapun yang menguasai komunitas anak muda, dialah yang berpotensi memenangkan pasar masa depan atau winning the future market.

Penerapan teknologi 4.0 akan menghasilkan disruptive effect yang akan mengubah secara mendasar wajah berbagai industri termasuk industri pariwisata. Berbagai kemajuan teknologi 4.0 memungkinkan terwujudnya berbagai aplikasi yang mampu memperkaya traveller experience di satu sisi, dan secara drastis mendongkrak produktivitas industri pariwisata di sisi lain.
Di destinasi wisata, seluruh informasi destinasi tidak lagi melalui brosur atau penjelasan para guide tetapi sudah memanfaatkan teknologi virtual reality via smartphone di tangan. Singkatnya, revolusi industri 4.0 ini bakal mengubah dan mendisrupsi industri pariwisata secara mendasar karena terwujudnya cost value (more for less), experience value (personalized), dan platform value (resources sharing”) yang bakal dinikmati para travellers.
Urgensi Tourism 4.0 di Indonesia perlu diterapkan melihat dari perspektif konsumen yaitu kenyataan perilaku konsumen yang sudah sangat digital dan semakin dominannya millennial travellers dalam komposisi wisman. Agar berhasil dalam penerapan sebuah teknologi membutuhkan kehadiran unsur kunci lainnya seperti sumber daya manusia (SDM) atau humanware, hubungan kerja/kolaborasi atau orgaware dan berbagai informasi deskriptif maupun preskriptif yang membuat teknologi tersebut dapat bekerja atau infoware.
Secara umum, ada tiga unsur mendasar yang diperlukan dalam proses pengembangan dan penciptaan destinasi digital. Tiga hal tersebut, adalah keberadaan lahan, kebutuhan infrastruktur dasar, dan kelengkapan utilitas dasar. Unsur penting lainnya dalam pengembangan destinasi digital adalah keberadaan infrastruktur dasar seperti keberadaan akses jalan, aliran listrik dan ketersediaan air. Unsur tersebut, nantinya akan berpengaruh pada utilitas dasar lain seperti telekomunikasi, toilet, dan sebagainya. Akses telekomunikasi yang memadai menjadi hal penting dari salah satu utilitas dasar tersebut. Signal dan Wi- fi menjadi bagian “tak tergantikan” bagi wisatawan milenial. Kebutuhan untuk mengupload hasil selfie wisatawan saat berada di destinasi, memerlukan keberadaan signal maupun ketersediaan Wi-fi dengan kecepatan tinggi yang mumpuni. Melalui kerjasama dengan operator seluler di Indonesia, hal tersebut dapat dimungkinkan. Bentuk kerjasama tersebut misalnya melalui skema bagi hasil penjualan voucher dan lain sebagainya.
Perubahan ini tidak hanya menciptakan berbagai peluang, namun juga berbagai tantangan bagi pariwisata pada setiap pilar kepariwisataan Indonesia dalam mencapai tujuan yakni mensejahterakan masyarakat Indonesia.


